Cari Blog Ini

Rabu, 22 Juni 2011

Cinta Kebenaran Suburkan Hati (Bag. 3)

Kebenaran Untuk Kehidupan Hati

Kehidupan hati yang sempurna hanya diraih dengan mengetahui, menginginkan dan mengutamakan kebenaran daripada hal-hal lain.

Keadaan ini bisa dicapai dengan dua hal; pertama, kekuatan ilmu dan pembeda; kedua, kekuatan keinginan dan cinta. Jadi, kesempurnaan hati terletak pada kekuatan ilmu dalam mengetahui dan memahami kebenaran, serta dalam membedakan antara kebenaran tersebut dengan kebatilan. Juga diraih dengan menggunakan kekuatan, keinginan dan cinta dalam mencari dan mencintai kebenaran serta dalam mengutamakan kebenaran dan kebatilan.

Orang yang tidak tahu kebenaran akan tersesat. Orang yang tahu kebenaran namun tidak menginginkannya atau mengutamakan selainnya, ia mendapatkan kemurkaan. Hanya orang yang tahu kebenaran lalu yang mengikutinyalah yang mendapat kenikmatan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam do’a kita sehari-hari dalam surat Al-Fatihah.

Allah Subhanahu Wa Ta‘ala menyebutkan dua hal pokok ini dalam banyak ayat, diantaranya :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqoroh: 186)

Permohonan orang yang berdo’a, pengabulannya dan seruan untuk memenuhi perintah Allah berhubungan dengan kekuatan, keinginan dan cinta. Seruan untuk beriman kepada Allah berhubungan dengan kekuatan ilmu dan pembeda.

Dalam Al-Qur’an, Allah selalu mengulang-ulang kabar bahwa orang yang bahagia adalah orang yang mengetahui kebenaran lalu mengikutinya, dan orang yang tidak tahu kebenaran serta tersesat darinya, atau ia mengetahui kebenaran tapi menyelisihinya.

Dua kekuatan hati ini tidak akan pernah berhenti dalam hati. Jika seorang hamba tidak menggunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengetahui dan memahami kebenaran, maka ia akan menggunakannya untuk mengetahui kebatilan. Jika ia tidak menggunakan keinginan beramal untuk mengamalkan keta’atan, maka ia akan menggunakan kekuatan itu untuk kemaksiatan.

Tak ada yang lebih penting bagi seorang hamba selain berkonsentrasi dengan kebenaran. Dua kekuatan hati itulah yang merupakan senjatanya untuk meraih modal segala kebaikan. Dengan mengilmui dan mengamalkan kebenaran, hatinya akan berisi kehidupan dan bercahaya, InsyaAllah...
(abu ibnihi)

Sumber :
Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim, Darul Falah.

Wallahu'alam Bishshowab