Kehidupan Dan Cahaya
Orang yang mengetahui hakikat alam semesta dan tempat kembalinya menginginkan hatinya berada dalam keadaan hidup. Bahkan lebih dari itu, mereka menginginkan kehidupan hati yang sempurna dan bercahaya. Mereka tahu, hidup dan cahaya adalah modal segala kebaikan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta‘ala,
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am: 122)
Dalam ayat ini, Allah menghimpun dua dasar yang asasi : kehidupan dan cahaya. Hidup akan melahirkan kekuatan; kekuatan pendengaran, penglihatan, malu, kesabaran dan segenap akhlak mulia lainnya. Ia juga akan melahirkan cinta pada kebaikan dan benci keburukan. Semakin kuat kehidupan hati seseorang, semakin kuat pula sifat-sifat diatas. Sebaliknya, jika hidupnya lemah, maka lemah pula sifat-sifat itu pada dirinya.
Cahaya dan sinar merupakan pembuka pengetahuan dan hakikat ilmu, seakan-akan sinar pelita ditengah jalan yang gelap. Jika cahaya dan sinar hati kuat, maka terbukalah pengetahuan yang bermanfaat dan hakikatnya. Dengan cahaya hati itu, tampaklah kebaikan sebagai kebaikan, dan keburukan sebagai keburukan.
Allah juga mengabarkan bahwa Al-Qur’an mengandung dua hal : ruh yang dengannya hati menjadi hidup dan cahaya yang dengannya didapatkan penerangan dan pancaran (Asy-Syura: 52).