Cari Blog Ini

Jumat, 27 Mei 2011

Ingat Mati ( Bag. 2 )

Pemutus Segala Kelezatan

Dari Abu Hurairah Rodhiyallaahu ‘Anhu beliau berkata, “Rosulullah Shollallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’ , yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafidzahullah menjelaskan perihal hadits diatas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati dikala sempit, dan mempersempit hati dikala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian”.[3]

Dan Merekapun Ingin Kembali

Sebaliknya orang-orang yang semasa hidupnya sangat sedikit mengingat mati, dari kalangan orang-orang kafir dan mereka yang tidak menta’ati seruan para Rosul, akan meminta tangguh dan udzur ketika bertemu dengan Robb mereka kelak diakhirat. Inilah penyesalan yang paling mendalam bagi manusia yang tidak mengingat kematian.

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzholim : “Ya Robb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami kedunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti Rosul-Rosul. (Kepada mereka dikatakan) : “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrohim: 44)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata : “Wahai Robb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang sholeh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munafiqun: 10-11)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “ Wahai Robb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja”. (QS. Al-Mu’minun: 99-100)[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy berkata mengenai ayat dalam Surat Al-Mu’minun, “Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang yang berhadapan dengan kematian, dari kalangan mufrithin (orang-orang yang bersikap meremehkan perintah Allah -pent) dan orang-orang yang dzholim. Mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk kembali kedunia. Bukan untuk bersenang-senang dengan kelezatannya, atau memenuhi syahwat mereka. Akan tetapi mereka berkata, ‘Agar aku berbuat amal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan”. Beliau kembali menjelaskan, “Apa yang mereka perbuat tidaklah bermanfaat sama sekali, melainkan hanya ada kerugian dan penyesalan. Pun perkataan mereka bukanlah perkataan yang jujur, jika seandainya mereka dikembalikan lagi kedunia, niscaya mereka akan kembali melanggar perintah Allah”.[5]

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/ingatlah-mati.html

Wallahu'alam Bishshowab